Pages

Info: Kami mohon maaf, kajian rutin di Masjid Baitul Kamal (komplek Balaikota Depok) belum dapat dimulai kembali, mohon doa dari ikhwah sekalian agar kajian dapat terlaksana kembali, barakallahu fiikum...

02 December 2013

Kiriman Artikel (4) - Warisan untuk Anak


WARISAN UNTUK ANAK 

Oleh: Fariq Gasim Anuz

Pada hari pengangkatan Al Manshur sebagai khalifah, Muqatil bin Sulaiman datang dan menghadapnya di istana. Al Manshur berkata kepada Muqatil, “Berilah aku nasehat, wahai Muqatil”. 

Muqatil memberikan pilihan, “Nasehat dari apa yang aku dengar atau yang aku lihat?”

Al Manshur menjawab, “Dari yang engkau lihat.” 

Muqatil berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Umar bin Abdul Aziz memiliki sebelas anak. Ketika wafat, beliau meninggalkan uang delapan belas dinar. Untuk membayar kain kafan lima dinar dan untuk tanah liang kuburnya empat dinar. Sisanya sembilan dinar diwariskan kepada ahli warisnya. 
Hisyam bin Abdul Malik, memiliki sebelas anak. Ketika beliau wafat, warisan yang diperoleh oleh masing-masing anaknya satu juta dinar. Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, pada suatu hari aku melihat salah seorang anak Umar bin Abdul Aziz bersedekah seratus ekor kuda untuk keperluan jihad fi sabilillah.
Dan pada hari yang sama, aku melihat salah seorang anak Hisyam bin Abdul Malik sedang meminta-minta di pasar. ” 
Orang-orang bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz menjelang wafatnya, " Apa yang engkau tinggalkan untuk anak-anakmu?" 

Beliau menjawab, "Aku tinggalkan untuk mereka takwa kepada Allah. Jika mereka menjadi orang-orang yang shaleh maka Allah yang akan mengurus mereka, jika tidak menjadi orang-orang yang shaleh maka aku tidak akan menolong mereka untuk bermaksiat kepada Allah. "

Seorang tetangga menceritakan kisah di atas ketika penyusun berjumpa dengannya di sebuah Masjid. Beberapa hari kemudian penyusun berjumpa Doktor Muhammad Majdu' di masjid yang lain. Penyusun menceritakan lagi kisah di atas dan meminta beliau memberikan faidah. 

Berikut ini beberapa faidah dari beliau: 
Pertama, takwa kepada Allah adalah sebaik-baik warisan orang tua untuk anaknya. 
Allah berfirman yang artinya, “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka kuatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Surat An Nisaa 9).

Kedua, meskipun seseorang telah memiliki kedudukan yang tinggi hendaknya selalu meminta nasehat dari ulama yang shaleh. 


Ketiga, nasehat praktis lebih berkesan di hati dibandingkan nasehat secara teoritis.

Keempat, keshalehan orang tua menjadi penyebab anak-anaknya mendapatkan perlindungan dari Allah. " …dan ayah mereka berdua seorang yang shaleh. …" (Surat Al Kahfi 82)

Kelima, keteladanan orang tua sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian yang baik bagi anak. 

Keenam, pentingnya sikap bijaksana dalam memberikan nasehat kepada manusia.

Ketujuh, memberikan contoh yang tepat sesuai dengan keadaan orang yang dinasehati. 

Kedelapan, kita ikut berdosa jika kita memberikan uang kepada seseorang dan kita tahu kemungkinan besar uang tersebut akan digunakan untuk maksiat kepada Allah.

Kesembilan, anak-anak merupakan amanat, kewajiban kita mendidik mereka dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,…" (Surat At Tahrim 6)

Akhirnya kami berdoa, "Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai teladan bagi orang-orang yang bertakwa." (Surat Al Furqaan 74)

[[http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/11/28/mwy3y6-warisan-untuk-anak]]

22 October 2013

Kiriman Artikel (3) - Berbagi Kebaikan

BERBAGI KEBAIKAN

Oleh; Fariq Gasim Anuz

Imam Dzahabi dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala (8/114) menyebutkan, al-Hafidz Ibnu Abdil Barr berkata dalam buku At-Tamhid, “Aku tuliskan ini dari hafalanku, karena buku aslinya tidak ada padaku.”

Abdullah al-Umari al-Abid menulis surat kepada Imam Malik menasihati beliau untuk banyak menyendiri dengan berzikir dan beribadah sunah.

Imam Malik menulis jawaban kepadanya, “Sesungguhnya Allah membagi amalan sebagaimana membagi rezeki. Boleh jadi Allah mudahkan dan memberikan taufik-Nya kepada seseorang untuk banyak melakukan shalat sunah, tapi tidak dalam puasa sunah.

Orang lain lagi, Allah memudahkan kepadanya untuk banyak bersedekah, ada lagi yang Allah mudahkan dan beri kelebihan kepada seseorang dalam berjihad. Menyebarluaskan ilmu juga merupakan amal kebaikan yang sangat utama. Saya ridha dengan taufik-Nya yang telah memudahkan untukku dalam menyebarkan ilmu syar'i. Saya kira amalan yang kulakukan ini tidak lebih rendah dari amalanmu. Saya berharap kita semuanya dalam kebaikan.”

Ada beberapa pelajaran dan hikmah dari kisah di atas.

Pertama,

10 October 2013

Kiriman Artikel (2) - Kisah Muallaf dari Jerman -1-

KISAH ISLAM LUKAS, PEMUDA DARI JERMAN
Oleh: Fariq Gasim Anuz
[Bag. 1/2]
Berkenalan dengan Lukas
Selesai shalat maghrib dari masjid, saya dan teman-teman kembali ke kantor Jeddah Dakwah Center. Tidak lama, masuklah ke ruang sekretariat seorang pemuda berkulit putih dan berambut  pirang. Dia memperkenalkan diri dengan bahasa Arab yang fasih. Namanya Lukas Rothfuchs (24 tahun) berasal dari Jerman. Baru dua hari sampai di Jeddah untuk kerja praktek selama lima bulan di sebuah perusahaan di Jeddah. Lukas masih kuliah mengambil jurusan ekonomi di Universitas Bremen, Jerman.
Di Jeddah, Lukas sementara tinggal di hotel dekat kantor kami selama dua hari setelah itu akan pindah untuk tinggal di tempat yang disediakan oleh perusahaan. Ia sedang jalan-jalan melihat-lihat sekitar hotel lalu ia melihat kantor Islamic Center. Ia berpikir  mencari guru privat bagi dirinya untuk belajar tahfidz Al Quran. Ia masuk dan menemui pengurus kantor. Setelah selesai berbincang dengan pengurus kantor, saya meminta dia untuk menceritakan tentang kisah keislamannya. Kejadian ini terjadi di hari Senin, 24 Dzul Qa'dah 1434 H / 30 September 2013 M.

Kiriman Artikel (2) - Kisah Muallaf dari Jerman -2-

KISAH ISLAM LUKAS, PEMUDA DARI JERMAN
Oleh: Fariq Gasim Anuz
[Bag. 2/2]

Proses Lukas Masuk Islam
Saya cinta dan kagum kepada Islam karena Islam agama yang sederhana dan mudah dipahami oleh semua manusia. Petani yang awam dan professor Doktor di Universitas meskipun tingkat kecerdasan mereka berbeda, semuanya bisa menerima dan memahami Islam dengan mudah. Islam adalah agama fitrah mengajarkan tauhid penghambaan kepada Allah semata dan tidak menyekutukan Nya dengan sesuatu apapun. Betapa nikmatnya ketika kita bisa menempelkan dahi kita ke bumi untuk sujud kepada Allah. Islam adalah agama yang sempurna mencakup semua aspek kehidupan. Islam agama yang mengatur program kehidupan sehari-hari. Sampai sampai masalah makan dengan tangan kanan, berpakaian, adab masuk wc dan lain-lain diatur oleh Islam. Hal ini tidak akan kita dapatkan di agama lain.
Saya mulai meninggalkan makan babi dan minum minuman keras. Saya pun mulai belajar shalat dari internet karena di tempat kami tinggal di Walsrode belum ada masjid satu pun. Adapun di tempat saya kuliah di kota Bremen ada sekitar 30 masjid. Saya melakukan shalat sekali sepekan kemudian bertahap sekali sehari begitu pula jika datang bulan Ramadhan saya mulai puasa beberapa hari. Sampai usia saya 16 tahun saya mantap untuk masuk Islam dan berusaha menjalankan Islam dengan konsisten termasuk shalat lima waktu dan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan tidak pernah saya tinggalkan.

07 October 2013

Kiriman Artikel (1)

MENJADI PELAYAN JAMAAH HAJI
Oleh: Fariq Gasim Anuz

Musim Haji segera tiba, beberapa teman Imam Abdullah bin Mubarak (118-181 H) dari penduduk Maru (dekat Khurasan) datang kepadanya, mereka berkata, “Kami ingin menemanimu menunaikan ibadah Haji".

Beliau menjawab; “Kalau begitu, kumpulkanlah biaya haji kalian kepadaku”.

Beliau menerima uang dari masing-masing jamaah dan meletakkan di dalam sebuah peti dan menguncinya.

Beliau menyewa kendaraan dan memulai perjalanan dari Maru menuju Baghdad. Ia melayani dan menjamu mereka dengan aneka makanan yang lezat. Ia juga memberikan mereka pakaian yang baik dan pantas.

Sesampainya di Madinah ia berkata kepada mereka semua, "Keluarga kalian meminta oleh-oleh apa dari Madinah?" Beliau lalu berbelanja pesanan keluarga mereka.

Setelah sampai di Makkah dan setelah selesai menunaikan ibadah Haji, beliau bertanya kepada mereka semua tentang oleh-oleh dari Makkah yang diminta keluargarnya, lalu beliau berbelanja lagi untuk mereka.