Pages

Info: Kami mohon maaf, kajian rutin di Masjid Baitul Kamal (komplek Balaikota Depok) belum dapat dimulai kembali, mohon doa dari ikhwah sekalian agar kajian dapat terlaksana kembali, barakallahu fiikum...

22 October 2013

Kiriman Artikel (3) - Berbagi Kebaikan

BERBAGI KEBAIKAN

Oleh; Fariq Gasim Anuz

Imam Dzahabi dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala (8/114) menyebutkan, al-Hafidz Ibnu Abdil Barr berkata dalam buku At-Tamhid, “Aku tuliskan ini dari hafalanku, karena buku aslinya tidak ada padaku.”

Abdullah al-Umari al-Abid menulis surat kepada Imam Malik menasihati beliau untuk banyak menyendiri dengan berzikir dan beribadah sunah.

Imam Malik menulis jawaban kepadanya, “Sesungguhnya Allah membagi amalan sebagaimana membagi rezeki. Boleh jadi Allah mudahkan dan memberikan taufik-Nya kepada seseorang untuk banyak melakukan shalat sunah, tapi tidak dalam puasa sunah.

Orang lain lagi, Allah memudahkan kepadanya untuk banyak bersedekah, ada lagi yang Allah mudahkan dan beri kelebihan kepada seseorang dalam berjihad. Menyebarluaskan ilmu juga merupakan amal kebaikan yang sangat utama. Saya ridha dengan taufik-Nya yang telah memudahkan untukku dalam menyebarkan ilmu syar'i. Saya kira amalan yang kulakukan ini tidak lebih rendah dari amalanmu. Saya berharap kita semuanya dalam kebaikan.”

Ada beberapa pelajaran dan hikmah dari kisah di atas.

Pertama,

10 October 2013

Kiriman Artikel (2) - Kisah Muallaf dari Jerman -1-

KISAH ISLAM LUKAS, PEMUDA DARI JERMAN
Oleh: Fariq Gasim Anuz
[Bag. 1/2]
Berkenalan dengan Lukas
Selesai shalat maghrib dari masjid, saya dan teman-teman kembali ke kantor Jeddah Dakwah Center. Tidak lama, masuklah ke ruang sekretariat seorang pemuda berkulit putih dan berambut  pirang. Dia memperkenalkan diri dengan bahasa Arab yang fasih. Namanya Lukas Rothfuchs (24 tahun) berasal dari Jerman. Baru dua hari sampai di Jeddah untuk kerja praktek selama lima bulan di sebuah perusahaan di Jeddah. Lukas masih kuliah mengambil jurusan ekonomi di Universitas Bremen, Jerman.
Di Jeddah, Lukas sementara tinggal di hotel dekat kantor kami selama dua hari setelah itu akan pindah untuk tinggal di tempat yang disediakan oleh perusahaan. Ia sedang jalan-jalan melihat-lihat sekitar hotel lalu ia melihat kantor Islamic Center. Ia berpikir  mencari guru privat bagi dirinya untuk belajar tahfidz Al Quran. Ia masuk dan menemui pengurus kantor. Setelah selesai berbincang dengan pengurus kantor, saya meminta dia untuk menceritakan tentang kisah keislamannya. Kejadian ini terjadi di hari Senin, 24 Dzul Qa'dah 1434 H / 30 September 2013 M.

Kiriman Artikel (2) - Kisah Muallaf dari Jerman -2-

KISAH ISLAM LUKAS, PEMUDA DARI JERMAN
Oleh: Fariq Gasim Anuz
[Bag. 2/2]

Proses Lukas Masuk Islam
Saya cinta dan kagum kepada Islam karena Islam agama yang sederhana dan mudah dipahami oleh semua manusia. Petani yang awam dan professor Doktor di Universitas meskipun tingkat kecerdasan mereka berbeda, semuanya bisa menerima dan memahami Islam dengan mudah. Islam adalah agama fitrah mengajarkan tauhid penghambaan kepada Allah semata dan tidak menyekutukan Nya dengan sesuatu apapun. Betapa nikmatnya ketika kita bisa menempelkan dahi kita ke bumi untuk sujud kepada Allah. Islam adalah agama yang sempurna mencakup semua aspek kehidupan. Islam agama yang mengatur program kehidupan sehari-hari. Sampai sampai masalah makan dengan tangan kanan, berpakaian, adab masuk wc dan lain-lain diatur oleh Islam. Hal ini tidak akan kita dapatkan di agama lain.
Saya mulai meninggalkan makan babi dan minum minuman keras. Saya pun mulai belajar shalat dari internet karena di tempat kami tinggal di Walsrode belum ada masjid satu pun. Adapun di tempat saya kuliah di kota Bremen ada sekitar 30 masjid. Saya melakukan shalat sekali sepekan kemudian bertahap sekali sehari begitu pula jika datang bulan Ramadhan saya mulai puasa beberapa hari. Sampai usia saya 16 tahun saya mantap untuk masuk Islam dan berusaha menjalankan Islam dengan konsisten termasuk shalat lima waktu dan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan tidak pernah saya tinggalkan.

07 October 2013

Kiriman Artikel (1)

MENJADI PELAYAN JAMAAH HAJI
Oleh: Fariq Gasim Anuz

Musim Haji segera tiba, beberapa teman Imam Abdullah bin Mubarak (118-181 H) dari penduduk Maru (dekat Khurasan) datang kepadanya, mereka berkata, “Kami ingin menemanimu menunaikan ibadah Haji".

Beliau menjawab; “Kalau begitu, kumpulkanlah biaya haji kalian kepadaku”.

Beliau menerima uang dari masing-masing jamaah dan meletakkan di dalam sebuah peti dan menguncinya.

Beliau menyewa kendaraan dan memulai perjalanan dari Maru menuju Baghdad. Ia melayani dan menjamu mereka dengan aneka makanan yang lezat. Ia juga memberikan mereka pakaian yang baik dan pantas.

Sesampainya di Madinah ia berkata kepada mereka semua, "Keluarga kalian meminta oleh-oleh apa dari Madinah?" Beliau lalu berbelanja pesanan keluarga mereka.

Setelah sampai di Makkah dan setelah selesai menunaikan ibadah Haji, beliau bertanya kepada mereka semua tentang oleh-oleh dari Makkah yang diminta keluargarnya, lalu beliau berbelanja lagi untuk mereka.